FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA
Brenta
Giusepa Perangin-Angin (181301118)
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara (USU)
Jl. DR. Mansyur No.7, Padang Bulan,
Kota Medan, Sumatera Utara 20155
Pada saat ini prilaku merokok pada kalangan remaja
sudah menjadi hal yang biasa kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi
taukah kalian sebenarnya prilaku merokok dari sudut pandang mana saja merupakan
hal yang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitarnya,
Dilihat dari sisi individu yang bersangkutan, ada beberapa riset yang mendukung
pernyataan tersebut. Dilihat dari sisi kesehatan, pengaruh bahan-bahan kimia
yang dikandung rokok seperti nikotin, CO (Karbonmonoksida) dan tar akan
memacu kerja dari susunan syaraf pusat dan susunan syaraf simpatis
sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung
bertambah cepat (Kendal & Hammen, 1998), menstimulasi penyakit kanker dan
berbagai penyakit yang lain seperti penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, jantung, paru-paru, dan
bronchitis kronis (Kaplan dkk, 1993).Bagi ibu hamil, rokok menyebabkan kelahiran
prematur, berat badan bayi rendah, mortalitas prenatal, kemungkinan lahir dalam
keadaan cacat, dan mengalami gangguan dalam perkembangan (Davidson & Neale,
1990). Hasil riset Larson dkk (dalam Theodorus, 1994) menemukan bahwa
sensivitas ketajaman penciuman dan pengecapan para perokok berkurang bila dibandingkan
dengan non-perokok. Dilihat dari sisi ekonomi, merokok pada dasarnya ‘membakar
uang’ apalagi jika hal tersebut dilakukan remaja yang belum mempunyai penghasilan
sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa remaja masih sangat tergantung pada
orang tua, dan hal ini menyebabkan, jika prilaku merokok sudah di biasakan oleh
kalalangan remaja, maka akan juga ikut membakar uang orang tuanya secara tidak
langsung.
Dilihat dari sisi orang
sekelilingnya, merokok dapat menimbulkan penyakin pada perokok pasif, bahkan
banyak riset mengatakan bahwa, perokok pasif juga sangat mungkin terkena
kangker paru-paru walau tidak secara langsung menghisap rokok tersebut. Resiko
yang ditanggung perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif karena
daya tahan terhadap zat-zat yang berbahaya sangat rendah (Safarino dalam
Cahyani, 1995).
Dari banyak hasil riset yang dilakukan, diketahui
bahwa banyak anak dibawah umur yang sudah mulai merokok sejak berpuluh-puluh
tahun yang lalu. Ini seperti sudah menjadi fenomena yang biasa di negeri kita.
Dengan banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, saya rasa pembiaran yang
dilakukan pemerintah sudah sangat tidak bisa ditolelir lagi. Hasil riset
Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (Republika, 1998) melaporkan bahwa di
anak-anak di Indonesia sudah ada yang mulai merokok pada usia 9 tahun. Smet
(1994) mengatakan bahwa usia pertama kali merokok pada umumnya berkisar antara
usia 11-13 tahun dan mereka pada umumnya merokok sebelum usia 18 tahun. Data
WHO juga semakin mempertegas bahwa seluruh jumlah perokok yang ada di dunia sebanyak
30% adalah kaum remaja (Republika, 1998). Hampir 50% perokok di Amerika Serikat
termasuk usia remaja (Theodorus, 1994).
Faktor dari dalam remaja dapat
dilihat dari kajian perkembangan remaja. Remaja mulai merokok dikatakan oleh
Erikson (Gatchel, 1989) berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang
dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati
dirinya. Dalammasa remaja ini, sering dilukiskan sebagaimasa badai dan topan
karena ketidaksesuaian antara perkembangan fisik yang sudah matang dan belum
diimbangi oleh perkembangan psikis dan sosial. Upayaupaya untuk menemukan jati
diri tersebut, tidak semua dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat.
Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sabagai cara kompensatoris. Seperti
yang dikatakan oleh Brigham (1991) bahwa perilaku merokok bagi remaja merupakan
perilaku simbolisasi. Simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya
tarik terhadap lawan jenis.
Di sisi lain, saat pertama kali
mengkonsumsi rokok, gejala-gejala yang mungkin terjadi adalah batuk-batuk,
lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut
mengabaikan perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan, dan akhirnya
menjadi ketergantungan. Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan
yang memberikan kepuasan psikologis. Gejala ini dapat dijelaskan dari konsep tobacco
dependency (ketergantungan rokok). Artinya, perilaku merokok merupakan perilaku
yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini
disebabkan sifat nikotin adalah adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan
menimbulkan stres. Secara manusiawi, orang cenderung untuk menghindari
ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan
sebagai kenikmatan sehingga dapat difahami jika para perokok sulit untuk berhenti
merokok. Dikatakan Klinke & Meeker (dalam Aritonang, 1997) bahwa motif para
perokok adalah relaksasi. Dengan merokok dapat mengurangi ketegangan,
memudahkan berkonsentrasi, pengalaman yang menyenangkan, dan
relaksasi.
Seperti yang diungkapkan oleh Leventhal & Clearly (dalam Cahyani,1995)
terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok yaitu:
1.
Tahap Preparatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan
mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan.
Hal-hal ini menimbukan minat untuk merokok.
2.
Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang
akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
3.
Tahap becoming a smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok
sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4.
Tahap maintenance of smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu
bagian
dari cara pengarturan diri (selfregulating). Merokok dilakukan
untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.
Selain faktor perkembangan remaja dan kepuasan
psikologis, masih banyak factor dari luar individu yang berpengaruh pada
proses pembentukan perilaku merokok.Pada dasarnya perilaku merokok
adalahperilaku yang dipelajari. Hal itu berarti ada fihak-fihak yang
berpengaruh besar dalam proses sosialisasi.
Konsep sosialisasi pertama berkembang dari Sosiologi
dan Psikologi Sosial merupakan suatu proses tranmisi nilai-nilai, sistem belief,
sikap, atau pun perilakuperilaku dari generasi sebelumnya kepada generasi
berikutnya (Durkin, 1995). Adapun tujuan sosialisasi ini adalah agar generasi
berikutnya mempunyai sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan norma yang
diinginkan oleh kelompok, sehingga individu dapat diterima dalam suatu kelompok.
Dalam kaitannya dengan perilaku merokok, pada dasarnya hamper tidak ada orang
tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi perokok bahkan masyarakat tidak
menuntut anggota masyarakat untuk menjadi perokok. Namun demikian, dalam kaitan
ini secara tidak sadar, ada beberapa agen yang merupakan model dan penguat bagi
perokok remaja (Komasari & Helmi, 2000).
Siapakah agen sosialisasi perilaku merokok bagi
remaja? Dengan merujuk konsep tranmisi perilaku, pada dasarnya perilaku dapat
ditranmisikan melalui tranmisi vertikal dan horisontal (Berry dkk, 1992).
Tranmisi vertikal dilakukan oleh orang tua dan tranmisi horisontal dilakukan oleh
teman sebaya. Dalam kesempatan ini yang dimaksud dengan tranmisi horizontal adalah
lingkungan teman sebaya dan tranmisi vertikal adalah sikap permisif orang tua
terhadap perilaku merokok. Dalam penelitian ini ada 3 faktor penyebab perilaku
merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orang tua
terhadap perilaku merokok remaja, dan pengaruh teman sebaya. Bagaimana cara
transmisi perilaku merokok? Salah satu yang dapat digunakan untuk menjelaskan
fenomena ini adalah teori social cognitive learning dari Bandura. Teori
ini menyatakan bahwa perilaku individu disebabkan pengaruh lingkungan,
individu, dan kognitif. Perilaku merokok tidak semata-mata merupakan proses
imitasi dan penguatan positif dari keluarga maupun lingkungan teman sebaya tetapi
juga adanya pertimbanganpertimbangan atas konsekuensikonsekuensi perilaku
merokok. Dalam kaitan ini, seperti yang telah diuraikan bagian terdahulu, jika
orang tua atau saudaranya merokok merupakan agen imitasi yang baik. Jika
keluarga mereka tidak ada yang merokok, maka sikap permisif orang tua merupakan
pengukuh positif atas perilaku merokok. Demikian halnya yang terjadi pada kelompok
teman sebaya. Teman sebaya mempunyai peran yang sangat berarti bagi remaja,
karena masa tersebut remaja mulai memisahkan diri dari orang tua dan mulai bergabung
pada kelompok sebaya. Kebutuhan untuk diterima sering kali membuat remaja
berbuat apa saja agar dapat diterima kelompoknya dan terbebasdari sebutan
‘pengecut’ dan ‘banci’. Selanjutnya jika dilihat dari tahap-tahap perilaku merokok,
teman sebaya dan keluarga merupakan fihak-fihak yang pertama kali mengenalkan
atau mencoba merokok, kemudian berlanjut dan berkembang menjadi tobacco
dependency atau adanya ketergantungan merokok. Dalam tahap ini maka merokok
merupakan kepuasan psikologis dan bukan sematamata kebutuhan untuk mewujudkan simbolisasi
kejantanan dan kedewasaan remaja (Komasari & Helmi, 2000).
KESIMPULAN
Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari.
Proses belajar dimulai dari sejak masa anak-anak, sedangkan proses menjadi
perokok pada masa remaja. Proses belajar atau sosialisasi tampaknya dapat
dilakukan melalui tranmisi dari generasi sebelumnya yaitu tranmisi vertikal
yaitu dari lingkungan keluarga, lebih spesifik sikap permisif orang tua
terhadap perilaku merokok remaja. Sosialisasi yang lain melalui transmisi
horisontal melalui lingkungan teman sebaya. Namun demikian, yang paling besar
memberikan kontribusi adalah kepuasan-kepuasan yang diperoleh setelah merokok
atau rokok memberikan kontribusi yang positif. Pertimbangan-pertimbangan
emosional lebih dominan dibandingkan dengan pertimbangan-pertimbangan rasional
bagi perokok.
SARAN-SARAN
Agen
sosialisasi dalam perilaku merokok adalah keluarga dan lingkungan teman sebaya.
Sementara itu, perilaku merokok lebh berkaitan dengan aspek emosional.
Saran-saran dari penelitian ini adalah:
1.
Bagi orang tua yang menginginkan anaknya tidak merokok maka anggota keluarga
tidak disarankan merokok dan atau tidak memberikan pengukuh positif ketika
remaja merokok.
2.
Teman sebaya memberikan kontribusi yang cukup besar kepada remaja untuk merokok,
dalam hal ini jika orang tua tidak menginginkan anaknya merokok, maka orang tua
perlu waspada terhadap kelompok teman sebaya anakanaknya.
3. Perilaku
merokok lebih didasarkan atas pertimbangan emosional. Berkaitan dengan masalah
tersebut upaya preventif maupun kuratif sebaiknya tidak menggunakan pendekatan kognitif
seperti pemberian informasi bahaya-bahaya atau dampak negatif merokok, tetapi
sentuhan sentuhan afeksional perlu dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyani,
B. Hubungan antara Persepsi terhadap Merokok dan Kepercayaan Diri dengan
Perilaku Merokok pada Siswa STM Muhammadiyah Pakem Sleman Yogyakarta. Skripsi. Tidak
diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM (1995)
Theodorus.
Ciri Perokok di Kalangan Mahasiswa/1
Universitas Sriwijaya. Jurnal JEN. No. 3, 19-24 (1994).
Harlianti,
T.T. Hubungan antara Pemenuhan Kasih Sayang Orang Tua dan Pengaruh Lingkungan Merokok Teman Sebaya
dengan Tingkah Laku Merokok Remaja SMP. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM (1988)
Republika.
Lebih Tiga Juta Meninggal karena Tembakau dalam Setahun. Harian Republika (1998).
Bermanfaat sekali
BalasHapusWow menarik sekalii
BalasHapusSangat cocok dengan perkembangan zaman yang sekarang ya pembahasannya☺
BalasHapusMantull
BalasHapusSudah bagus, tapi lebih diperhatikan lagi pemilihan kata yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Bisa memilih kata atau kalimat yang menarik dan mudah dipahami, tetapi tetap sesuai denggan KBBI.
BalasHapusBerguna jadi bahan referensi. Thanks for sharing
BalasHapusAku sukaaaaaaa
BalasHapusAku sukaaaaaaa
BalasHapusSangat bermanfaat, dengan artikel ini, kita jadi tahu cara menghindari faktor penyebab perilaku merokok, dan menggantinya dengan kegiatan yang positif
BalasHapusMantapp 👍👍
BalasHapusRokok is bad, i think.
BalasHapusAku tak tahu cara merokok :(
BalasHapusRokok buruk
BalasHapusSangat menyadarkan
Apa mendapatkan dunia yg lancar semudah itu?
BalasHapusApa bahagia semudah itu?
Aku iri
Sungguh