Rabu, 12 Desember 2018

Tugas Aplikasi Mandeley(Psikologi 18)




                  FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB 

         PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA



       Brenta Giusepa Perangin-Angin (181301118)
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara (USU)
     Jl. DR. Mansyur No.7, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara 20155

Pada saat ini prilaku merokok pada kalangan remaja sudah menjadi hal yang biasa kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi taukah kalian sebenarnya prilaku merokok dari sudut pandang mana saja merupakan hal yang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitarnya, Dilihat dari sisi individu yang bersangkutan, ada beberapa riset yang mendukung pernyataan tersebut. Dilihat dari sisi kesehatan, pengaruh bahan-bahan kimia yang dikandung rokok seperti nikotin, CO (Karbonmonoksida) dan tar akan memacu kerja dari susunan syaraf pusat dan susunan syaraf simpatis sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung bertambah cepat (Kendal & Hammen, 1998), menstimulasi penyakit kanker dan berbagai penyakit yang lain seperti penyempitan pembuluh darah,  tekanan darah tinggi, jantung, paru-paru, dan bronchitis kronis (Kaplan dkk, 1993).Bagi ibu hamil, rokok menyebabkan kelahiran prematur, berat badan bayi rendah, mortalitas prenatal, kemungkinan lahir dalam keadaan cacat, dan mengalami gangguan dalam perkembangan (Davidson & Neale, 1990). Hasil riset Larson dkk (dalam Theodorus, 1994) menemukan bahwa sensivitas ketajaman penciuman dan pengecapan para perokok berkurang bila dibandingkan dengan non-perokok. Dilihat dari sisi ekonomi, merokok pada dasarnya ‘membakar uang’ apalagi jika hal tersebut dilakukan remaja yang belum mempunyai penghasilan sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa remaja masih sangat tergantung pada orang tua, dan hal ini menyebabkan, jika prilaku merokok sudah di biasakan oleh kalalangan remaja, maka akan juga ikut membakar uang orang tuanya secara tidak langsung.
           
            Dilihat dari sisi orang sekelilingnya, merokok dapat menimbulkan penyakin pada perokok pasif, bahkan banyak riset mengatakan bahwa, perokok pasif juga sangat mungkin terkena kangker paru-paru walau tidak secara langsung menghisap rokok tersebut. Resiko yang ditanggung perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif karena daya tahan terhadap zat-zat yang berbahaya sangat rendah (Safarino dalam Cahyani, 1995).
           
Dari banyak hasil riset yang dilakukan, diketahui bahwa banyak anak dibawah umur yang sudah mulai merokok sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ini seperti sudah menjadi fenomena yang biasa di negeri kita. Dengan banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, saya rasa pembiaran yang dilakukan pemerintah sudah sangat tidak bisa ditolelir lagi. Hasil riset Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (Republika, 1998) melaporkan bahwa di anak-anak di Indonesia sudah ada yang mulai merokok pada usia 9 tahun. Smet (1994) mengatakan bahwa usia pertama kali merokok pada umumnya berkisar antara usia 11-13 tahun dan mereka pada umumnya merokok sebelum usia 18 tahun. Data WHO juga semakin mempertegas bahwa seluruh jumlah perokok yang ada di dunia sebanyak 30% adalah kaum remaja (Republika, 1998). Hampir 50% perokok di Amerika Serikat termasuk usia remaja (Theodorus, 1994).
           
            Faktor dari dalam remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja. Remaja mulai merokok dikatakan oleh Erikson (Gatchel, 1989) berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. Dalammasa remaja ini, sering dilukiskan sebagaimasa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan fisik yang sudah matang dan belum diimbangi oleh perkembangan psikis dan sosial. Upayaupaya untuk menemukan jati diri tersebut, tidak semua dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sabagai cara kompensatoris. Seperti yang dikatakan oleh Brigham (1991) bahwa perilaku merokok bagi remaja merupakan perilaku simbolisasi. Simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya tarik terhadap lawan jenis.
           
            Di sisi lain, saat pertama kali mengkonsumsi rokok, gejala-gejala yang mungkin terjadi adalah batuk-batuk, lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut mengabaikan perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi ketergantungan. Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan psikologis. Gejala ini dapat dijelaskan dari konsep tobacco dependency (ketergantungan rokok). Artinya, perilaku merokok merupakan perilaku yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini disebabkan sifat nikotin adalah adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan menimbulkan stres. Secara manusiawi, orang cenderung untuk menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat difahami jika para perokok sulit untuk berhenti merokok. Dikatakan Klinke & Meeker (dalam Aritonang, 1997) bahwa motif para perokok adalah relaksasi. Dengan merokok dapat mengurangi ketegangan, memudahkan berkonsentrasi, pengalaman yang menyenangkan, dan
relaksasi. Seperti yang diungkapkan oleh Leventhal & Clearly (dalam Cahyani,1995) terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok yaitu:
1. Tahap Preparatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbukan minat untuk merokok.
2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
3. Tahap becoming a smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4. Tahap maintenance of smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu
bagian dari cara pengarturan diri (selfregulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Selain faktor perkembangan remaja dan kepuasan psikologis, masih banyak factor dari luar individu yang berpengaruh pada proses pembentukan perilaku merokok.Pada dasarnya perilaku merokok adalahperilaku yang dipelajari. Hal itu berarti ada fihak-fihak yang berpengaruh besar dalam proses sosialisasi.

Konsep sosialisasi pertama berkembang dari Sosiologi dan Psikologi Sosial merupakan suatu proses tranmisi nilai-nilai, sistem belief, sikap, atau pun perilakuperilaku dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya (Durkin, 1995). Adapun tujuan sosialisasi ini adalah agar generasi berikutnya mempunyai sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan norma yang diinginkan oleh kelompok, sehingga individu dapat diterima dalam suatu kelompok. Dalam kaitannya dengan perilaku merokok, pada dasarnya hamper tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi perokok bahkan masyarakat tidak menuntut anggota masyarakat untuk menjadi perokok. Namun demikian, dalam kaitan ini secara tidak sadar, ada beberapa agen yang merupakan model dan penguat bagi perokok remaja (Komasari & Helmi, 2000).
Siapakah agen sosialisasi perilaku merokok bagi remaja? Dengan merujuk konsep tranmisi perilaku, pada dasarnya perilaku dapat ditranmisikan melalui tranmisi vertikal dan horisontal (Berry dkk, 1992). Tranmisi vertikal dilakukan oleh orang tua dan tranmisi horisontal dilakukan oleh teman sebaya. Dalam kesempatan ini yang dimaksud dengan tranmisi horizontal adalah lingkungan teman sebaya dan tranmisi vertikal adalah sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok. Dalam penelitian ini ada 3 faktor penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja, dan pengaruh teman sebaya. Bagaimana cara transmisi perilaku merokok? Salah satu yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah teori social cognitive learning dari Bandura. Teori ini menyatakan bahwa perilaku individu disebabkan pengaruh lingkungan, individu, dan kognitif. Perilaku merokok tidak semata-mata merupakan proses imitasi dan penguatan positif dari keluarga maupun lingkungan teman sebaya tetapi juga adanya pertimbanganpertimbangan atas konsekuensikonsekuensi perilaku merokok. Dalam kaitan ini, seperti yang telah diuraikan bagian terdahulu, jika orang tua atau saudaranya merokok merupakan agen imitasi yang baik. Jika keluarga mereka tidak ada yang merokok, maka sikap permisif orang tua merupakan pengukuh positif atas perilaku merokok. Demikian halnya yang terjadi pada kelompok teman sebaya. Teman sebaya mempunyai peran yang sangat berarti bagi remaja, karena masa tersebut remaja mulai memisahkan diri dari orang tua dan mulai bergabung pada kelompok sebaya. Kebutuhan untuk diterima sering kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterima kelompoknya dan terbebasdari sebutan ‘pengecut’ dan ‘banci’. Selanjutnya jika dilihat dari tahap-tahap perilaku merokok, teman sebaya dan keluarga merupakan fihak-fihak yang pertama kali mengenalkan atau mencoba merokok, kemudian berlanjut dan berkembang menjadi tobacco dependency atau adanya ketergantungan merokok. Dalam tahap ini maka merokok merupakan kepuasan psikologis dan bukan sematamata kebutuhan untuk mewujudkan simbolisasi kejantanan dan kedewasaan remaja (Komasari & Helmi, 2000).



KESIMPULAN

Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari. Proses belajar dimulai dari sejak masa anak-anak, sedangkan proses menjadi perokok pada masa remaja. Proses belajar atau sosialisasi tampaknya dapat dilakukan melalui tranmisi dari generasi sebelumnya yaitu tranmisi vertikal yaitu dari lingkungan keluarga, lebih spesifik sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja. Sosialisasi yang lain melalui transmisi horisontal melalui lingkungan teman sebaya. Namun demikian, yang paling besar memberikan kontribusi adalah kepuasan-kepuasan yang diperoleh setelah merokok atau rokok memberikan kontribusi yang positif. Pertimbangan-pertimbangan emosional lebih dominan dibandingkan dengan pertimbangan-pertimbangan rasional bagi perokok.
SARAN-SARAN

            Agen sosialisasi dalam perilaku merokok adalah keluarga dan lingkungan teman sebaya. Sementara itu, perilaku merokok lebh berkaitan dengan aspek emosional. Saran-saran dari penelitian ini adalah:
1. Bagi orang tua yang menginginkan anaknya tidak merokok maka anggota keluarga tidak disarankan merokok dan atau tidak memberikan pengukuh positif ketika remaja merokok.
2. Teman sebaya memberikan kontribusi yang cukup besar kepada remaja untuk merokok, dalam hal ini jika orang tua tidak menginginkan anaknya merokok, maka orang tua perlu waspada terhadap kelompok teman sebaya anakanaknya.
3. Perilaku merokok lebih didasarkan atas pertimbangan emosional. Berkaitan dengan masalah tersebut upaya preventif maupun kuratif sebaiknya tidak menggunakan pendekatan kognitif seperti pemberian informasi bahaya-bahaya      atau dampak negatif merokok, tetapi sentuhan sentuhan afeksional perlu   dilakukan.

                                    DAFTAR PUSTAKA

Cahyani, B. Hubungan antara Persepsi terhadap Merokok dan Kepercayaan Diri                                                                   dengan Perilaku Merokok pada Siswa STM Muhammadiyah Pakem Sleman    Yogyakarta. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM (1995)
Theodorus.  Ciri Perokok di Kalangan Mahasiswa/1 Universitas Sriwijaya. Jurnal JEN. No. 3, 19-24 (1994).
Harlianti, T.T. Hubungan antara Pemenuhan Kasih Sayang Orang Tua dan   Pengaruh Lingkungan Merokok Teman Sebaya dengan Tingkah Laku Merokok Remaja SMP. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM (1988)
Republika. Lebih Tiga Juta Meninggal karena Tembakau dalam Setahun. Harian Republika (1998).


14 komentar:

  1. Sangat cocok dengan perkembangan zaman yang sekarang ya pembahasannya☺

    BalasHapus
  2. Sudah bagus, tapi lebih diperhatikan lagi pemilihan kata yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Bisa memilih kata atau kalimat yang menarik dan mudah dipahami, tetapi tetap sesuai denggan KBBI.

    BalasHapus
  3. Berguna jadi bahan referensi. Thanks for sharing

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat, dengan artikel ini, kita jadi tahu cara menghindari faktor penyebab perilaku merokok, dan menggantinya dengan kegiatan yang positif

    BalasHapus
  5. Apa mendapatkan dunia yg lancar semudah itu?
    Apa bahagia semudah itu?
    Aku iri
    Sungguh

    BalasHapus